(RESOLUSI) KONFLIK, MERAJUT PERDAMAIAN

1171
Judul: Resolusi Konflik Jembatan Perdamaian
Penulis: Ichsan Malik
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2017
Tebal Buku: xii + 340 hlm.
ISBN: 978 – 602 – 412 – 301 -7

 

 

 

Buku yang ditulis Doktor Ichsan Malik, sebagaimana ditulis dalam pengantar bukunya ini adalah hasil materialisasi atau teoretisasi pengalaman dari upaya resolusi konflik personal yang dilakukannya. Artinya, buku yang ditulis ini didasarkan pengalaman pribadi penulis di bidang resolusi konflik: dari menjadi pelatih kajian resolusi konflik (1998) ke mediator perdamaian konflik Maluku (2000-2003) hingga fasilitator perdamaian di Poso dan Aceh. Pengalaman di bidang revolusi konflik ini kemudian diasah (lagi) dalam keterlibatan melakukan penelitian tentang konflik di Myanmar, Mindanao, Afganistan, dan Korea Utara.

Karena dimulai dari pengalaman menangani resolusi konflik di Indonesia, buku Resolusi Konflik Jembatan Perdamaian ini memiliki keunggulan, yakni dilahirkan dari orisinalitas pengalaman Indonesia mengalami konflik. Buku ini sangat tepat dihadirkan di tengah kerinduan akan lahirnya kepustakaan atau teori resolusi konflik yang disarikan dari pengalaman orisinal bangsa Indonesia menghadapi dan menyelesaikan konflik demi terciptanya perdamaian.

Salah satu penemuan orisinal konteks Indonesia yang ditemukan Doktor Ichsan Malik adalah perluasan rasa kekitaan (we-ness) sebagai landasan membicarakan pemaafan (forgiveness) dan keadilan (justice) menuju terciptanya perdamaian (peace). Identifikasi imajinatif menjadi penting ketika berhadapan dengan konflik-konflik primodial yang sukar terselesaikan. Menganjurkan peranan kearifan lokal, penulis meyakini adanya solidaritas yang menjamin terjadinya rekonsiliasi konflik. Terhadap solusi ini, saya tiba-tiba teringat anjuran filsuf pemikir neo-pragmatisme Amerika terkenal bernama Richard Rorty dalam bukunya Solidarity, Contingency and Irony (1989) yang mengatakan: “Rasa solidaritas kita paling kuat (dalam upaya resolusi konflik-red) apabila kepada mereka dengannya kita menyatakan diri solider dipandang sebagai ‘salah satu dari kita!’”(hlm.191).

Indonesia sesudah kemerdekaan dalam uraian buku ini pada hakikatnya “menyimpan potensi konflik internal yang laten” (hlm. 2) karena fakta pluralitas dan multikulturalitas ataupun kebeluman melakukan  upaya resolusi konflik. Tercatat adanya konflik politik dan ideologi seperti pemberontakan Darul Islam, Republik Maluku Selatan (RMS), pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tentunya membutuhkan penyelesaian.  Jika tidak diselesaikan maka konflik akan menggerogoti sendi-sendi NKRI ataupun kebhinekaan Indonesia sebagai bangsa.

Supaya integrasi bangsa tetap terjadi maka diperlukan adanya rekonsolisiasi nasional (hal 5). Konflik yang dibiarkan maka akan mengalami eskalasi konflik yang berakibat kekerasan massal atau tragedi berdarah di Poso, Maluku, Aceh (9). Dalam situasi ini, diperlukan strategi mengatasi konflik, yakni strategi konflik berbasis komunitas.

Dengan demikian buku ini merupakan uraian yang lengkap-utuh komprehensif tentang konflik, di mana ia tidak melakukan anatomi terhadap sumber-sumber konflik, tetapi melakukan bergerak mencari upaya resolusi konflik berbasis komunitas. Konflik diatasi dengan manajemen konflik yang partisipatif, di mana para pelaku konflik tidak hanya menjadi objek penyelesaian konflik, tetapi bagian penting dari penyelesaian konflik. Manajemen konflik partisipatif sangat dianjurkan dalam menghadapi eskalasi konflik ataupun konflik di tengah fakta keindonesiaan.

Karena itu, buku ini secara bertahap membedah sejumlah pokok penting dalam resolusi konflik seperti konflik kekerasan. Pada bagian ini, penulis menghadirkan sumber-sumber konflik dan potensi adanya eskalasi kekerasan. Bagian pertama buku ini membahas pula tentang prasangka sebagai sumber konflik, serta peluang dan keharusan resolusi konflik di tengah eskalasi kekerasan (hlm. 2-49).

Kekerasan dalam konflik tidak boleh dibiarkan. Harus ada pemutusan kekerasan konflik. Bagian kedua buku ini mengharuskan adanya penghentian konflik yang berdasarkan hak asasi manusia. Prosedur dialog sangat dibutuhkan untuk membuka ketertutupan pelaku konflik. Pada buku ini digali nilai-nilai moral kontributif agama dalam melakukan resolusi konflik, sebagai upaya penghentian kekerasan (hlm. 64-94).

Upaya rekonsiliasi konflik harus memiliki arah atau tujuan, yakni perdamaian. Penulis menyodorkan konsep-konsep dasar yang dibutuhkan membangun jembatan perdamaian pascakonflik. Menggunakan pendekatan psikologi sosial, penulis memperkenalkan konsep perdamaian yang berkelanjutan. Peran pemimpin sangat dibutuhkan dalam mediasi konflik ataupun mendatangkan perdamaian dalam upaya resolusi konflik (hlm. 100-48).

Pada bagian keempat dan kelima, penulis menawarkan upaya rekonsiliasi (hlm.154-196) dan membangun perdamaian (hlm. 202-219) berdasarkan pengalaman Indonesia menangani konflik. Dua bagian ini, hemat saya, merupakan inti dari buku ini. Upaya rekonsiliasi di Aceh, Maluku, dan daerah konflik, penulis menawarkan kekitaan sebagai hasil dari rekonsiliasi. Identifikasi dalam satu komunitas imajinatif mempermudah adanya rekonsiliasi konflik. Upaya membangun perdamaian dengan mencari strategi jangka panjang sangat diperlukan untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan. Nilai-nilai agama ataupun budaya yang hidup dan relevan dalam ingat dapat direproduksi dan diaktualisasi dalam melakukan rekonsiliasi dan penentuan damai yag berkelanjutan.

Selamat kepada Doktor Ichsan Malik yang melalui bukunya telah menetaskan teori resolusi konflik dari jantung pengalaman orisinal Indonesia. Ada satu awasan yang juga penting dalam buku ini: manajemen dan resolusi konflik menjadi bagian penting dari pertahanan negara. (Redem Kono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here