pixabay.com

Oleh: Redem Kono

DENGAN apakah kita menilai dan memperlakukan kebenaran di zaman ini? Izinkan saya memulainya dari ulasan Michael Foucault.

Pada 1973, Michael Foucault –pemikir terkenal Prancis dengan jenaka menulis dalam bukunya The Order of Things: An Archeology of the Human Science: “Bagi orang-orang yang masih memikirkan tentang manusia, tentang kuasa, atau pembebasannya, bagi mereka yang hingga kini bertanya tentang hakikat manusia, bagi mereka yang menjadikan diri mereka titik berangkat dalam upaya menemukan kebenaran…bagi segala macam permenungan ini, kita hanya dapat menjawab dengan gelak filofofis, yang artinya tidak usah mengatakan jawaban apapun” (342-343).

Tertawa, menjadi pilihan Foucault terkait persoalan kebenaran. Foucault memiliki alasannya. Dalam Power/Knowledge: Selected Interviews ia menulis: “Kebenaran adalah produk dari kekuasaan, di mana kebenaran dihadirkan melalui ”sistem prosedur untuk produksi, regulasi, distribusi, sirkulasi, dan pernyataan,” (1977, 213). Apa yang disebut kebenaran selalu berhubungan timbal balik dengan kekuasaan. Kebenaran lekat dengan kekuasaan!

Strategi kekuasaan

Namun, gagasan Foucault tidak sesederhana itu. Menurutnya, strategi kekuasaan memiliki strategi intelektual guna mendominasi wacana tentang kebenaran. Tulis Foucault: “Kekuasaan menciptakan pengetahuan. Kekuasaan dan pengetahuan saling menghasilkan. Tidak ada pengetahuan yang tidak memuat relasi dengan kekuasaan,” demikian tegas Foucault dalam Discipline and Punish, The Birth of Prison (1977, 27).  Kekuasaan menciptakan pengetahuan, yang akan kemudian membenarkan kenyataan-kenyataan yang ternyata sengaja dibangun.

Secara eksplisit analisis ini terungkap dalam esai Foucault pada 1971, The Discourse on Language. Di situ, Foucault menampilkan hubungan antara diskursus ilmu pengetahuan dengan kekuasaan.  Diskursus ilmu pengetahuan yang hendak menemukan yang benar dan yang palsu pada dasarnya dimotori oleh kehendak untuk berkuasa.

Menjadi jelas bahwa kehendak untuk kebenaran adalah ungkapan dari kehendak untuk berkuasa (will to power). Selain itu, ilmu pengetahuan yang terwujud dalam teknologi gampang digunakan untuk memaksakan sesuatu kepada masyarakat.

Hubungan saling berkelindan antara pengetahuan dan kekuasaan akan berujung pada penciptaan “kebenaran yang sewenang-wenang demi kepentingannya sendiri,” ujar Foucault (1977, 213). Kebenaran diciptakan secara kolektif melalui pengetahuan yang diproduksi, yang berimbas pada hadirnya realitas baru.

Realitas itu dibangun secara terstruktur-rapi-sistematis hingga seolah-olah benar. Kebenaran diproduksi untuk melegitimasi kepentingan sendiri atau kelompok.

Foucault melanjutkan, kekuasaan yang memunculkan wacana tentang kebenaran menampilkan diri dalam rupa bahasa-bahasa yang spesifik dan resmi. Kebenaran menciptakan bahasanya sendiri, untuk membahasakan apa yang menjadi klaim-klaimnya, sekaligus melegitimasi kekuasaan. Dalam konteks politik, misalnya, bahasa-bahasa yang datang dari para pemegang tampuk kekuasaan akan cenderung mendukung segala kebijakan (baca: realitas yang diusungnya).

Atau, banyak kali terjadi, hubungan menguntungkan antara kekuasaan dan pengetahuan membuat banyak orang tergoda menciptakan kebenaran-kebenaran versi sendiri. Akibatnya, produk dari kebenaran tersebut akan dibela habisan-habisan melalui bahasa yang diproduksi secara besar-besaran. Imbasnya, tidak ada “perdebatan tentang wacana kebenaran karena meniadakan kekuasaan”. Tidak ada lagi kritik, negasi terhadap kebenaran.

Produk kebenaran ini digunakan Foucault untuk mengumumkan tragedi dashyat yang terjadi dalam dunia modern: kematian subjek. Kita hidup (menghidupi) “kebenaran-kebenaran” yang diciptakan dari luar diri.

Kebenaran tidak lagi merupakan produk subjek yang sadar. Kita menjadi  anonim, “tanpa kesadaran rasional-kritis” di tengah kebenaran-kebenaran itu. Saya tahu saya benar bukan dari kesadaran saya bahwa itu benar, tetapi saya tahu saya benar karena kelompok itu mengatakan demikian.

Baiklah mari kita kutip lagi Foucault: “Bukan tindakan subjek yang menghasilkan pengetahuan, tetapi kekuasaan-pengetahuan, yang menentukan bentuk dan bidang pengetahuan yang mungkin” (177, 28). Munculnya ”kebenaran” secara tragis mengumumkan raibnya kesadaran subjek.

Maka, tidak heran jika Foucault mengajak kita menertawakan kebenaran-kebenaran yang muncul. Orang tidak dapat mampu berpikir secara sadar, dan atau seolah-olah sadar karena dijejali oleh pengetahuan-kebenaran yang terus dilancarkan pengetahuan.

Mari kita bayangkan pemikiran Foucault dalam konteks Orde Baru. Rezim Orde Baru memproduksi pengetahuan-pengetahuan untuk melegitimasi kekuasaannya yang ooriter. Pengetahuan seperti P4 Pancasila ataupun pelajaran-pelajaran sejarah diciptakan untuk memapankan kekuasaannnya. Pengetahuan-pengetahuan ini diklaim sebagai kebenaran absolut, yang tidak dapat dipersoalkan. Berpikir di luar (sistem) kebenaran yang dibangun kekuasaan tersebut akan dipandang sebagai pembangkangan, atau bertindak subversif.

Cara menangani kebenaran model demikian, oleh pemikir Prancis Jacques Derrida, dimunculkan dari model oposisi biner yang telah dimulai dari sejarah purba pemikiran manusia. Model ini memisahkan sekaligus meniadakan yang lainnya.

Derrida dalam Of Grammatology (1997, hlm. 6-7) mencontohkan: pembedaan dunia ide dan dunia material (Plato), jiwa dan badan (abad pertengahan), rasional-empirik, suara-tulisan yang berpuncak pada pemilahan tentang rasio (res cogitans) dan tubuh sebagai obyek terukur (res extensa). Model oposisi biner ini merambah pada pelbagai bidang.

Model oposisi biner juga muncul dalam pemikiran Foucault. Bersikukuh pada apa yang disebut kebenaran pada saat yang sama meniadakan versi kebenaran yang lain. Inilah gaya berpikir dikotomis yang membelah sesuatu atas baik-tidak baik, benar-salah, buruk-tidak buruk. Kalau saya benar, yang lain harus salah.

Pola dikotomis menumpulkan cara berpikir kreatif dari subjek, dan menutup cara berpikir alternatif. Orang membela kebenarannya sebagai satu-satunya, bahkan dengan mengakhiri kehidupannya sendiri.

Lihatlah di sekitar kita: banyak orang menjadi korban cara berpikir dikotomis ini. Demi mencapai kekuasaan dan kepentingannya, ada orang menutup diri terhadap kebenaran, bahkan kehadiran yang lain. Tanpa ampun orang merayakan kebenarannya dengan meniadakan kebenaran lainnya; memakai pedang, cacian, bahkan menggunakan nama Tuhan untuk menghabisi nyawa yang lain.

Menggeledah kebenaran

Pada hemat saya, dialog (rasional) tetaplah menjadi jalan keluar dari strategi kekuasaan Foucault dan cara berpikir dikotomis. Model yang diterapkan Juergen Habermas tentang diskursus komunikatif perlu dibangun, selain mengadvokasi kekuasaan Foucaltian juga membangun cara berpikir dialogis yang merayakan subjek yang berpikir.

Kekuasaan ataupun “kebenaran” absolut harus “digoyang” melalui diskusi yang rasional. Kritikan-kritikan terhadap rasionalitas sejak zaman terang budi (aufklarung) bukan berarti memproklamasikan kegagalannya.

Sebagaimana dicatat Andrew Edgar dalam Habermas: The Key Concepts (2006), Habermas berusaha menjawab kiritikan-kritikan tersebut dengan menggali kapasitas rasionalitas atau akal budi. Akal budi dapat mencapai kebenaran dalam komunikasi antarsubjek.

Konsep “rasionalitas komunikatif” Habermas berupaya membangun jembatan dialektif antara partikularitas dan universalitas. Pertemuan Habermas dengan filsafat subjek Kant dan Marxisme Barat menetaskan “rasionalitas komunikatif.”

Habermas menolak tegangan ekstrem dalam pola pikir dikotomis. Ia sebaliknya mendukung cara berpikir dialog yang mencoba menjembatani setiap pendapat (klaim kebenaran) atas nama penghargaan dan pengakuan terhadap yang lain.

Rasionalitas komunikatif menegaskan kekuasaan komunikasi yakni otoritas diskursus dalam menghadapi persoalan yang ada. Rasionalitas komunikatif mengandaikan kerelaan peserta diskursus sebagai “subjek” untuk mengkomunikasikan gagasannya dalam konteks deliberasi. Setiap orang yang berdebat dan atau berdiskusi mengganggap orang lain sebagai “subjek” pembicaraan.

Habermas selanjutnya berbicara tentang etika diskursus yang berusaha mempertimbangkan secara kritis dan rasional atas segala sesuatu. Para peserta diskursus berupaya mencapai sebuah kesepakatan bersama secara inklusif, bebas, dan tanpa takut.

Keputusan yang dihasilkan dapat merefleksikan kebutuhan orang banyak (bahkan yang tidak hadir dalam diskursus) tersebut. Kebenaran yang dihasilkan tidak dilahirkan dari produk kekuasaan, tetapi produk subjek yang sadar akan dirinya sendiri. Secara sederhana, carilah kebenaran gunakan akal budi.

Kebenaran tidak dicari. kebenaran dihasilkan melalui subjek yang terlibat dalam diskusi. Kebenaran bersifat terbuka, karena ia lahir dari orang-orang yang membuka diri terhadap kebenaran yang lainnya. Jalan yang ditempuh adalah menggeledah apa yang disebut “kebenaran” di masyarakat kita secara kritis-dialogal.

Dalam konteks ini, saya pun mengerti alasan Foucault memilih tertawa tergelak-gelak di seputar “kebenaran”!

 

Sumber: http://www.indonesiasatu.co/detail/gelak-tawa-sekitar-kebenaran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here