Peneliti Areopagus Indonesia

JAKARTA, IndonesiaSatu.coMayoritas pemilih kandidat gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018-2023 cenderung memilih kandidat yang seasal atau satu suku. Demikian hasil survei online yang dirilis Lembaga Areopagus Indonesia di Kedai Kopi Lot 88, Jl Cikini Raya no 38 Menteng, Jakarta Selasa (16/5/2017) malam.

Dalam survei yang bertajuk “Mencari Pemimpin NTT 2018-2023: Kandidat Pemimpin NTT Pilihan Netizen,” Lembaga Areopagus Indonesia merilis 13 kandidat Gubernur NTT paling dominan di mata pemilih netizen yakni Boni Hargens, Benny K Harman, Raymundus Fernandes, Eston Foenay, Kristo Blasin, Ahok, Melky Lakalena, Andre Garu, Robert Marut, Marianus Sae, Valens Daki-Soo, Adinda Lebu Raya, Martin Dira Tome.

“Dari survei, 13 kandidat ini memiliki tingkat dominan di  atas dua persen. Dari 45 nama, muncul 13 tokoh ini,” ujar Direktur Lembaga Areopagus Indonesia Yanto Fulgenz.

Salah satu temuan menarik dari survei adalah karakteristik pemilih netizen cenderung memilih berdasarkan kandidat yang seasal atau satu suku.

“Misalnya, Boni Hargens yang berasal dari Manggarai memiliki tingkat dominan paling tinggi yakni 20,8 % memiliki sebaran distribusi pemilih di tiga kabupaten di NTT; 13,8 % Manggarai Timur, 21,8 % Manggarai Barat, dan 44,8 % Manggarai,” papar Yanto, peneliti lulusan UI yang menamatkan pascasarjana di bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan spesialisasi Perencanaan dan Evaluasi Program.

Benny K Harman yang memiliki tingkat pemilih 14,6 % juga mendapat dukungan pemilih dari masyarakat seasalnya di Manggarai. Anggota DPR RI itu dipilih 62, 3 % Manggarai, 9, 8 % Manggarai Barat, dan 8, 2 % Manggarai Timur.

“Begitupun Raymundus Fernandes (Bupati TTU) dipilih 48, 2 % masyarakat TTU dan Kristo Blasin (politisi PDI-P asal Sikka) dipilih 27, 3 % pemilih dari Sikka,” ungkap Yanto.

Menariknya, Lembaga Areopagus Indonesia menemukan pengecualian pada kandidat Eston Foenay yang justru dipilih 35, 7 % Manggarai dan 14, 3 % Manggarai Barat.

Manajer Advokasi Lembaga Areopagus Indonesia Mus Jemarut seusai rilis survei mengatakan meskipun hasil riset ini belum sepenuhnya representatif, tetapi identifikasi karakteristik pemilih ini menunjukkan perlunya pendidikan politik kepada masyarakat NTT.

“Masyakat NTT sebaiknya diberikan pendidikan politik agar memilih kandidat gubernur tidak karena seasal, tetapi memilih kandidat yang benar-benar mengabdi pada kepentingan rakyat dan punya visi-misi pemerintahan yang tepat, relevan, dan jelas bagi pembangunan di NTT,” kata Mus Jemarut.

Survei menggunakan metode non probability sampling, khususnya teknik sampling aksidental. Desain survei adalah cross sectional study. Metode pengumpulan data adalah kuisioner disebarkan kepada netizen yang berasal dari NTT melalui media sosial. Kuisioner tidak hanya dibagikan kepada perorangan, tetapi juga group-group media sosial netizen warga NTT.

Sampel dalam survei yang dilakukan sejak 23 April-13 Mei ini berjumlah 436 responden.

Adapun Areopagus Indonesia yang baru didirikan adalah lembaga kajian kebijakan publik ataupun masyarakat berbasis rasionalitas dan penelitian ilmiah. Areopagus Indonesia memiliki visi menjadi lembaga penelitian, advokasi, dan analisis kebijakan sosial-politik serta lembaga pemberdayaan masyarakat yang kredibel, akuntabel, dan independen.

Sumber: Indonesiasatu.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here